01
Sinar Jingga
Suara adzan subuh
menggema begitu merdu diiringi suara ayam jantan berkokok saling
bersahut-sahutan bagaikan sebuah alunan musik yang sangat indah didengarkan. Rian
yang tengah terbaring pulas sembari menarik selimut karena udara yang begitu
dingin menusuk tubuh hingga menembus relung hati yang paling dalam. Mata
terpejam tubuh menggeruguh kedinginan tak membuatnya sulit untuk membuka mata
dan memulai cerita hari ini dengan harapan ada bahagia menghampirinya meski ia
tak pernah tau apa yang akan terjadi padanya mungkinkah derita ataukah bahagia.
Rian yang
berusaha membuka mata dan melepas selimut yang mengurung tubuhnya semalaman
akhirnya bisa juga ia lakukan karena semangat yang gigih untuk bangkit dari
keterpurukan adalah hal yang selalu di inginkannya sejak kecil, ia juga tak
pernah ingin merepotkan orang di sekelilingnya. Rian yang selalu melakukan
semua hal dengan kemandiriannya tak membuatnya menjadi sombong dan bukan
berarti ia tidak membutuhkan orang di sekelilingnya. Dia juga selalu berfikir
bahwa hidupnya tak pernah sendiri dan sangat bergantung pada orang lain lebih
lagi ia juga membutuhkan kedua orang tuanya yang begitu tulus merawatnya dan
kedua orang tuannya ingin menjadikan sosok Rian yang berguna untuk orang lain.
Tiba sudah
saatnya ia mengangkat tubuhnya dan beranjak melangkahkan kaki menuju masjid
yang tak jauh dari rumahnya untuk melakukan sholat subuh berjamaah, tak lupa ia
membawa sarung dan baju koko kesayangannya karena seperangkat alat sholat itu
adalah pemberian almarhum kakeknya yang meninggal sejak ia duduk di bangku
kelas 5 sd tepatnya 7 tahun silam. Melangkahkan kaki menuju masjid dan
menunaikan sholat subuh berjamaah adalah kebiasaannya setiap hari, kebiasaan
tersebut ia lakukan sejak masih belia karena kebiasaannya itu ia sangat terkenal akrab
dengan warga sekitar dan membuatnya menjadi sesosok kepribadian yang sholeh,
baik, suka menolong, penyabar dan penyayang.
Langkah kaki
secara perlahan bergerak sampai di perempatan jalan Rian bertemu sosok wanita
sholehah yang dikenalnya sejak kecil ia adalah Anisa, baginya Anisa merupakan
sosok wanita yang sangat berarti setelah ibunya. Rian yang kesehariannya
menghabiskan waktu bersama Anisa tak membuatnya merasa bosan, selama ini ia
menganggapnya sebagai sahabat tapi belakangan ini ia merasa dibuatnya menjadi
dilema antara memilihnya sahabat atau seorang kekasih bagaimana tidak demikian akhir-akhir
ini ia merasa kini saatnya mewujudkan semua impiannya untuk mengungkapkan rasa
cinta yang semakin membara.
“nanti
sehabis sholat jogging gak nis??,” sapaku sembari bertanya dan tersenyum kecil.
“iya ri tapi
bentar aja ya soalnya kita kan nanti sekolah”
“oke nis,
siap deh hehe”
Setiap hari mereka
berdua memang jogging atau jalan-jalan kecil keliling kampung menghabiskan
waktu subuh dan menyambut sinar jingga dari ufuk timur. Usai sudah mereka
menunaikan sholat subuh berjamaah, mereka pun bergegas meninggalkan halaman
masjid dan langsung jalan-jalan keliling kampung. Terlihat seperti sepasang
kekasih nan romantis karena kedua belah pihak yang saling melengkapi dan saling
mengerti satu sama lain, banyak teman-teman yang beranggapan bahwa mereka
berdua adalah dua insan yang menyatu dalam sebuah kisah cinta tapi semua itu
hanya pendapat orang lain dan sebenarnya mereka berdua hanyalah sepasang
sahabat yang saling mengisi dalam kehidupan keduanya.
Derap kaki seiring
seirama melangkah penuh bahagia menuju sebuah kisah yang sulit untuk dilupakan
bagaikan pantai yang tak pernah jauh dari lautan bagaikan akar yang tak pernah
jauh dari tanah semua itu keinginan nyata untuk jalan asmara. Langkah mereka
belum juga terhenti seraya berbincang-bincang menanti detik-detik kehadiran
jingga di ufuk timur, kebiasaan yang tak pernah terabaikan sejak kecil hanya
untuk melihat sang jingga dari ufuk timur. Gerak mentari perlahan menampakkan
kehadirannya dan tak pernah berhenti memancarkan teriknya yang mampu membuat
semuanya menjadi lebih berarti.
Ada kejanggalan yang
ingin di utarakan rian kepada nisa namun tak mudah baginya untuk mengungkapkan
semuanya meski telah sekian lama ia memendam rasa cinta yang sangat membakar
hati. Mungkin pagi ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan segala rasa
yang terpendam dalam palung hati, menghela nafas panjang dan melepasnya secara
perlahan. Mencoba memulai satu kata ke kata yang lain.
“nisa, aku
mau bilang sesuatu ke kamu”
“bilang apa
ri??”
“sesuatu
yang mungkin sangat berarti untuk hidup dan matiku”
“iya tentang
apa ri kok kamu serius amat gak seperti biasanya !!”
“tapi kamu
jangan marah ya nis, aku takut apa yang aku ucapkan membuatmu tak suka lagi
padaku”
“udah,
tenang aja ri aku bakal dengerin semua yang kamu ucapin kok aku juga tetep suka
kamu ri”
“jujur
selama ini aku gak Cuma sekedar suka sama kamu nis tapi aku” sambil menundukkan kepala menahan malu.
“tapi apa
ri?? Cepet ahh jangan bikin aku bête !!“
mengangkat suara.
“aku cinta
kamu nis aku pengen kita gak sekedar sahabat dekat tapi sepasang kekasih yang
saling melengkapi kehidupan ini”
“hah !! Terus kamu pengen kita pacaran gitu??” bertanya keheranan.
“iya nis aku sangat mencintai kamu, rasa ini telah lama
terpendam dalam palung hatiku kini saatnya aku menyatakan semuanya kepadamu” penuh harapan.
“tapi jangan sekarang ri”
“kenapa nis?? Apa aku salah kalau mengungkapkannya
sekarang??” tanyaku penasaran.
“gak gitu kok ri tapi sekarang aku belum siap kalau kita
harus pacaran, mungkin nanti ada waktunya sendiri, lebih baik kita jalani
seperti ini aja”
“ya udah nis aku tetep nunggu kamu kok, mungkin aku yang
terlalu cepat untuk ungkapin semuanya ke kamu” sambil tersenyum menahan kesedihan.
Anisa menghela nafas panjang .“aku minta maaf ri kamu
jangan sedih ya anggap semua ini baik-baik aja, aku juga cinta kamu kok tapi
aku belum pengen kalau kita harus pacaran” seraya
tersenyum memberi harapan.
“iya nis aku ngerti kamu kok”
“ya udah ri kita pulang aja ya udah jam segini aku harus
siap-siap buat sekolah”
“oke nis aku juga pulang, kamu yang semangat ya nis
sekolahnya”
“iya ri aku semangat kok, kamu juga harus semangat jangan
kamu pikirin lagi apa yang telah terjadi saat ini, daa rian !!”
Di ujung jalan mereka berpisah hanya sinar jingga yang menjadi saksi
perjalanan mereka pagi ini. Terpisah dari cerita yang membuat dilema keduanya, saling
mencintai tapi satu pihak yang belum bisa jika harus merubah persahabatan
menjadi sebuah kisah cinta. Kini rian hanya bisa berharap dan menunggu sosok
anisa menerima ketulusan cintanya.
-------------------------------------------
Terik mentari kian membakar hari tapi kabut tebal masih enggan untuk
pergi dan berlalu meninggalkan peraduannya bersama sang fajar. Terlihat di
depan rumah tante rika tengah menyapu halaman,Rian tiba-tiba nongol dari mulut
gerbang depan rumahnya.
“ehh tante rika, tumben pagi-pagi gini udah nyapu??”
seraya tersenyum lepas.
“biasanya juga nyapu tiap pagi ri kamunya aja yang kurang
kerjaan nanya gitu terus” sahut tante rika agak bete.
Rian yang mengabaikan ucapan tante rika, langsung menuju kamarnya
dan merapikan diri serapi mungkin untuk
ke sekolah. Waktu yang kian berlalu menghantarkan mentari semakin menjulang
tinggi serasa hembusan embun pagi telah lenyap bersama hilangnya sang sinar
jingga di ufuk timur yang kini di gantikan oleh birunya langit.
“Rian, ayo sarapan dulu, udah mama siapkan menu spesial
buat kamu” seru mama rian memanggil dari ruang makan sedikit samar-samar.
“iya ma, rian lagi pake sepatu nih, bentar ya” sahut rian
dengan lantangnya.
Derap langkah kaki
menuruni anak tangga, Rian yang tengah menapakkan kaki menuju lantai bawah
berlari-lari kecil sambil menenteng tasnya dan sedikit tergesa-gesa. Mama,
Papa, dan tante Rika sudah menunggunya di meja makan sejak 5 menit yang lalu.
“kamu lama
amat ri??” Tanya tante rika.
“iya tan tadi
sambil nyiapin buku juga jadi agak telat dikit” jawab rian.
“ya udah
kamu langsung maem aja gihh” ujar tante rika.
Suara di meja makan
itu seketika hening setelah berkumpulnya semua personil keluarga mereka. Hanya
suara kunyahan yang terdengar, sendok dan piring yang saling beradu bagaikan
paduan suara yang sedang pentas. Rian begitu lahapnya menikmati makanan olahan
mamanya itu seperti belum makan seharian. Suap demi suap tanpa henti mengunyah
berkali-kali ia lakukan terus sampai makanan di piringnya pun ludes sekejap
mata.
“cepet amat
kamu makannya?” Tanya tante rika keheranan.
“biasanya
juga cepet kok tan, tante aja yang makanya lemot kayak sinyal lagi pending
hahaha” sahut rian kegirangan.
“ihh, dasar
anak nyebelin”
“nyebelin gini
juga ponakan tante yang paling keren sekampung hehehe”
“udah-udah,
jangan rame lagi gak enak di dengar tetangga pagi-pagi udah rame aja kalian
berdua” sela papa.
“Rian, kalau
kamu udah kelar makannya mending kamu langsung berangkat gihh keburu telat entar
udah siang lho” perintah mama.
“iya ma,
rian berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum” ucap rian sembari berpamitan ke
mereka bertiga.
“waalaikum
salam” jawab mereka serempak.
Dedaunan kering berjatuhan di terpa angin, semua sepeda
motor tertata rapi di parkiran yang terbalut rindangnya pohon beringin tua.
Hembusan angin begitu sejuk menghantarkan semuanya kedalam pelukan dunia.Terdengar
kicauan burung tengah bernyanyi-nyanyi di ranting pohon beringin yang telah
menginjak usia senja. Terlihat begitu bahagianya gerombolan burung itu menikmati
indahnya dunia pagi ini.
Rian memarkirkan sepeda motornya di ujung parkiran sekolah tepat di
bawah pohon mangga yang tengah berbuah lebat, aromanya begitu menggoda selera
bagi siapa saja yang menghirupnya.Sambil berkaca-kaca di spion dan merapikan
rambutnya yang acak-acakan. Melangkah tegak dan spontanya menuju ke tepi
parkiran dengan mengenakan jas yang terlihat sangat tampan di pandang mata.
Belum jauh melangkah tiba-tiba ia melihat sesosok wanita dengan rambut
berkibar-kibar terkena terpaan angin sepoi-sepoi nan lembut di rasakanmuncul
dari balik mobil yang sedang terparkir dan tidak asing lagi baginya, ia pun
langsung mempercepat langkah dan seketika berdiri tepat di hadapannya.
“sendirian aja nis??” tanya rian spontan.
“aku gak sendirian kok bukannya aku disini sama kamu juga
lagian disini juga banyak orang jadi aku gak mungkin sendirian” jawab nisa dengan
celoteh lawaknya.
“dasar ya kamu, pagi-pagi gini udah bikin orang geregetan
aja”
“geregetan gimana?? Kamunya aja yang terlalu tegang”
sahut nisa tersenyum.
“geregetan pengen nyubit pipi kamu” sembari menyubit pipi
nisa dengan lembut.
Kriiiiinggg !!!!!! kriiiiiing !!!! kriiiinnnggg !!!!
Terdengar suara bel berdering sebagian siswa
menghamburkan diri dari tongkrongan mereka dan berlari-larian menuju kelas
masing-masing. Demikian juga dengan rian dan nisa untuk beranjak masuk kelas
karena pelajaran jam pertama akan segera di mulai. Seketika mungkin sekolah
yang tadinya terlihat sangat ramai oleh kicauan siswa siswi menjadi hening dan
sunyi seolah-olah tanpa penghuni di dalamnya. Hanya seorang satpam yang sedang
sibuk menutup pintu gerbang.
Pelajaran demi
pelajaran pada hari itu pun berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikit
pun yang terjadi. Tepat pukul 2 siang KBM selesai, siswa siswi berhamburan
menuju lokasi parkir dengan berjalan meski saling berhimpitan.Rian melihat azizah masih terpangku di trotoar
jalan depan sekolah dengan raut wajah yang sedikit agak terlihat kelelahan
karena aktivitas seharian yang begitu padat dan sangat menguras pikiran. Rian
pun langsung mengulir tuas gas motornya menghampiri azizah.
“nunggu
siapa ziz?” Tanya rian spontan dan tak menghiraukan mesin motornya yang masih
berderu.
“nunggu jemputan
ri, emang kenapa?”
“Gapapa ziz,
siapa yang jemput?”
“papa aku”
“bareng aku
aja daripada nunggu lama” ajak rian.
“gak aja deh
ri, bentar lagi pasti datang kok. Kamu pulang duluan aja ri aku gapapa disini
sendirian.” Jawab azizah seraya tersenyum.
“ya udah ziz
aku balik dulu,, daaa aziz..”
“Hati-hati
ri” sahut azizah.
Rian yang langsung memacu motornya dan pergi berlalu meninggalkan azizah
di trotoar depan sekolah mereka. Hanya bayangan yang menyisakan kepergian rian
seketika itu. Tak lama kemudian azizah pun di jemput ayahnya, mereka pun langsung
pulang kerumah. Dan sekejap saja keheningan muncul di kompleks sekolah, tidak
ada siapa-siapa lagi di area sekolah itu kecuali 2 orang satpam yang masih
berjaga-jaga di area sekolah hingga menjelang senja.