02
Lembayung Senja
Tetes air hujan sore itu secara perlahan membasahi
jalanan aspal depan rumah Anisa. Ia yang termenung sendirian bertemankan
segelas susu putih yang masih hangat dan selembar roti tawar yang dioleskan
selai coklat. Sore ini anisa hanya sendirian dirumah seluruh keluarganya belum
pulang kerumah, kedua orang tuanya yang masih sibuk kerja di kantor. Tak bisa
dipungkiri lagi anisa hanyalah seorang anak tunggal, sebagian waktunya ia
habiskan dirumah bersama kedua orang tuanya itu saja ketika malam hari.
Butiran hujan seketika itu lenyap dengan kehadiran
mentari senja dari balik awan yang sedikit menutupi sinarnya. Hujan sore itu
sekejap saja membawa kenangan akhirnya berubah menjadi lembayung senja yang
sangat indah di pandang mata. Anisa tak henti-hentinya memandangi indahnya peraduan
warna sang lembayung senja sore itu. Teringat terakhir kali ia melihat
lembayung bersama rian, kala itu ia dan rian sedang menyusuri area persawahan
di desa tempat tinggal pak yanto. Pak yanto adalah guru mereka di sekolah, saat
itu pak yanto sedang mengadakan penyuluhan tentang pertanian. Semua anak didiknya
mengikuti agenda tersebut.
Kini ia hanya memandangi sang lembayung itu dengan kesendiriannya tanpa
di temani seorang pun.
Kriiiinggg kriiiiiinnggg kriiiiinngg !!!!!!!
Handphone
nisa pun berdering ternyata rian yang menelponnya.
“hallo ri,
ada apa?” Tanya nisa penasaran karena tiba-tiba menelponnya.
“nanti habis
maghrib ke pasar malam mau gak nis?” ajak rian.
“belum tau
ri, aku juga belum bilang mama nanti aku bilang mama dulu kalau di izinin aku
pasti bisa kok, kamu nanti aku kabarin lagi”
“ya udah
nis, aku tunggu kabar dari kamu, bye bye nis”
Tuuuuutttt.
Sambungan
telpon pun terputus.
Hari semakin
sore lembayung senja telah pergi lebih dulu, mentari tergelincir di ufuk barat
tinggal beberapa detik lagi malam akan segera tiba. Terlihat jalanan aspal yang masih basah
karena diguyur hujan sejak tadi. Anisa di rundung kegelisahan karena kedua
orang tuanya tak kunjung datang meski waktu telah menunjukkan jam 05:30.
Lampu-lampu di tiap
rumah warga telah menyala, adzan maghrib telah berkumandang pada saat itu pula
terdengar suara mobil berderu. Anisa pun beranjak keluar kamar dan membuka
pintu rumahnya. Hanya terlihat mama anisa yang keluar dari mobil tanpa di
dampingi siapapun dan seketika itu anisa tersentak kaget karena melihat mamanya
seorang diri.
“papa mana
ma?? Kenapa mama sendirian??” Tanya anisa sedikit gelisah.
“papa kamu
masih ada lemburan di kantornya nanti juga pulang kok tapi agak malam” jawab
mamanya menenangkan kegelisahan anaknya itu.
Anisa membukakan pintu
selebar mungkin lalu membiarkan mamanya masuk dan beristirahat belum sempat
anisa membicarakan soal ajakan rian kepada mamanya.
---------------------------------------------
Jam menunjukkan pukul 06:30 petang rian belum juga mendapat kabar dari
anisa, kegelisahannya kini telah sampai di ujung sesakkan dada.
Dreettt dreettt dreetttt ........
Bunyi HP rian bergetar pertanda ada sebuah pesan masuk.
Rian pun membuka pesan itu dan rupanya ada sederet pesan dari anisa, ia lalu
membacanya seksama :
“sebelumnya aku
minta maaf ya ri bukannya aku nolak ajakan kamu buat ke pasar malam tapi aku harus
nemenin mama aku dirumah. Mama aku sendirian dirumah papa aku juga belum pulang
jadi aku gak bisa kalau harus ninggalin mama dirumah sendirian. Ke pasar
malamnya lain kali aja ya ri aku bener-bener gak bisa kalau sekarang. Maaf
banget ya ri”
Itulah sederet pesan dari anisa yang membuat suhu badan
rian terasa berubah-ubah menjadi panas dingin. Ia merenunginya sejenak dan
berusaha untuk selalu mengerti keadaan anisa, apalagi ia sudah kencan untuk
double date bersama juna dan arin sahabatnya itu sedangkan rian bersama anisa
tapi itu semua tak sesuai dengan rencananya sejak sepulang sekolah tadi.
Tok tok tok .........
Terdengar seperti ada yang mengetuk pintu rumahnya dan
bersegaralah rian membuka pintu tersebut, ternyata juna lah yang mengetuk pintu
itu.
“ehh, elo jun. Kirain siapa? Ayo masuk dulu jun.” sapa
rian sembari tersenyum lebar kepada juna dan arin.
“ahh, elo kayak gak tau aja sih ri. Kita kan udah kencan
buat ke pasar malam sekarang” sahut juna sembari duduk di sofa.
“iya jun gua tau itu tapi....” rian terdiam dan
tertunduk.
“tapi apa ri? Bilang aja terus terang.” Sela juna
memperjelas ucapan rian.
”tapi aku gak ada gandengan jun, elo bareng arin sedangkan
gua masak sendirian terus gua jadi obat nyamuk buat kalian berdua gitu??” cetus
rian dengan nada tinggi.
“udah udah gak usah debat lagi” sela arin mendinginkan
suasana. “ elo juga sih ri katanya elo mau bareng si nisa tapi kenapa kamu
bilang gak ada gandengan, emang si nisa gak mau apa gak bisa?? Tambah arin.
“nisa gak bisa katanya lagi nemenin mamanya yang
sendirian dirumah” jelas rian. “ mending kalian pergi berdua aja aku lagi
pengen sendiri dulu untuk malam ini” pinta rian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar