Sabtu, 11 Februari 2017

Lembayung Senja



02
Lembayung Senja


Tetes air hujan sore itu secara perlahan membasahi jalanan aspal depan rumah Anisa. Ia yang termenung sendirian bertemankan segelas susu putih yang masih hangat dan selembar roti tawar yang dioleskan selai coklat. Sore ini anisa hanya sendirian dirumah seluruh keluarganya belum pulang kerumah, kedua orang tuanya yang masih sibuk kerja di kantor. Tak bisa dipungkiri lagi anisa hanyalah seorang anak tunggal, sebagian waktunya ia habiskan dirumah bersama kedua orang tuanya itu saja ketika malam hari.
Butiran hujan seketika itu lenyap dengan kehadiran mentari senja dari balik awan yang sedikit menutupi sinarnya. Hujan sore itu sekejap saja membawa kenangan akhirnya berubah menjadi lembayung senja yang sangat indah di pandang mata. Anisa tak henti-hentinya memandangi indahnya peraduan warna sang lembayung senja sore itu. Teringat terakhir kali ia melihat lembayung bersama rian, kala itu ia dan rian sedang menyusuri area persawahan di desa tempat tinggal pak yanto. Pak yanto adalah guru mereka di sekolah, saat itu pak yanto sedang mengadakan penyuluhan tentang pertanian. Semua anak didiknya mengikuti  agenda tersebut.
                       Kini ia hanya memandangi sang lembayung itu dengan kesendiriannya tanpa di temani seorang pun.
Kriiiinggg kriiiiiinnggg kriiiiinngg !!!!!!!
Handphone nisa pun berdering ternyata rian yang menelponnya.
“hallo ri, ada apa?” Tanya nisa penasaran karena tiba-tiba menelponnya.
“nanti habis maghrib ke pasar malam mau gak nis?” ajak rian.
“belum tau ri, aku juga belum bilang mama nanti aku bilang mama dulu kalau di izinin aku pasti bisa kok, kamu nanti aku kabarin lagi”
“ya udah nis, aku tunggu kabar dari kamu, bye bye nis”
Tuuuuutttt.
Sambungan telpon pun terputus.

Hari semakin sore lembayung senja telah pergi lebih dulu, mentari tergelincir di ufuk barat tinggal beberapa detik lagi malam akan segera tiba.  Terlihat jalanan aspal yang masih basah karena diguyur hujan sejak tadi. Anisa di rundung kegelisahan karena kedua orang tuanya tak kunjung datang meski waktu telah menunjukkan jam 05:30.
                       Lampu-lampu di tiap rumah warga telah menyala, adzan maghrib telah berkumandang pada saat itu pula terdengar suara mobil berderu. Anisa pun beranjak keluar kamar dan membuka pintu rumahnya. Hanya terlihat mama anisa yang keluar dari mobil tanpa di dampingi siapapun dan seketika itu anisa tersentak kaget karena melihat mamanya seorang diri.
“papa mana ma?? Kenapa mama sendirian??” Tanya anisa sedikit gelisah.
“papa kamu masih ada lemburan di kantornya nanti juga pulang kok tapi agak malam” jawab mamanya menenangkan kegelisahan anaknya itu.
                         Anisa membukakan pintu selebar mungkin lalu membiarkan mamanya masuk dan beristirahat belum sempat anisa membicarakan soal ajakan rian kepada mamanya.

---------------------------------------------


                        Jam menunjukkan pukul 06:30 petang rian belum juga mendapat kabar dari anisa, kegelisahannya kini telah sampai di ujung sesakkan dada.
Dreettt dreettt dreetttt ........
Bunyi HP rian bergetar pertanda ada sebuah pesan masuk. Rian pun membuka pesan itu dan rupanya ada sederet pesan dari anisa, ia lalu membacanya seksama :
“sebelumnya aku minta maaf ya ri bukannya aku nolak ajakan kamu buat ke pasar malam tapi aku harus nemenin mama aku dirumah. Mama aku sendirian dirumah papa aku juga belum pulang jadi aku gak bisa kalau harus ninggalin mama dirumah sendirian. Ke pasar malamnya lain kali aja ya ri aku bener-bener gak bisa kalau sekarang. Maaf banget ya ri”
Itulah sederet pesan dari anisa yang membuat suhu badan rian terasa berubah-ubah menjadi panas dingin. Ia merenunginya sejenak dan berusaha untuk selalu mengerti keadaan anisa, apalagi ia sudah kencan untuk double date bersama juna dan arin sahabatnya itu sedangkan rian bersama anisa tapi itu semua tak sesuai dengan rencananya sejak sepulang sekolah tadi.

Tok tok tok .........
Terdengar seperti ada yang mengetuk pintu rumahnya dan bersegaralah rian membuka pintu tersebut, ternyata juna lah yang mengetuk pintu itu.
“ehh, elo jun. Kirain siapa? Ayo masuk dulu jun.” sapa rian sembari tersenyum lebar kepada juna dan arin.
“ahh, elo kayak gak tau aja sih ri. Kita kan udah kencan buat ke pasar malam sekarang” sahut juna sembari duduk di sofa.
“iya jun gua tau itu tapi....” rian terdiam dan tertunduk.
“tapi apa ri? Bilang aja terus terang.” Sela juna memperjelas ucapan rian.
”tapi aku gak ada gandengan jun, elo bareng arin sedangkan gua masak sendirian terus gua jadi obat nyamuk buat kalian berdua gitu??” cetus rian dengan nada tinggi.
“udah udah gak usah debat lagi” sela arin mendinginkan suasana. “ elo juga sih ri katanya elo mau bareng si nisa tapi kenapa kamu bilang gak ada gandengan, emang si nisa gak mau apa gak bisa?? Tambah arin.
“nisa gak bisa katanya lagi nemenin mamanya yang sendirian dirumah” jelas rian. “ mending kalian pergi berdua aja aku lagi pengen sendiri dulu untuk malam ini” pinta rian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar