AWAL KEDATANGAN ISLAM DI ANDALUSIA
Andalusia atau Spanyol sekarang, sebelumnya disebut Vandalusia,
artinya negeri bangsa Vandal, yang selanjutnya orang-orang arab menamakannya
andalusia sebagaimana mereka menamakannya sebuah jazirah. Pada abad ke-2 sampai
abad ke-5, Andalusia merupakan bagian dari kerajaan Romawi, namun di awal abad
ke-5, Andalusia berhasil diduduki oleh bangsa Vandal.
Selanjutnya di awal abad ke 6 (tahun 507 M), wilayah Andalusia
kembali diserbu oleh bangsa goth barat dan mengusir orang-orang vandal ke
afrika. Pada mulanya bangsa goth barat berhasil mendirikan negara yang kuat dan
megah, tetapi hal itu tidak bertahan lama karena mereka dihinggapi jiwa
pemalas. Negerinya terbagi kedalam beberapa provinsi dan dibangun gedung-gedung
mewah tempat mereka berpoya-poya dengan penuh kesenangan, yang akhirnya justru
menghancurkan semangat nasionalisme mereka. Pertanian dan perindustrian mereka
miskin dan sengsara. Kaum menengah diberi beban berat dengan pembayaran pajak
yang tinggi, sehingga para petani dan penguasa mengeluh. Golongan pendeta dan
pastur yang tadinya menyerukan persaudaaraan senasib sepenanggungan, setelah
mendapat kekayaan melimpah ruah lantas berubah menjadi ahli politik yang
menekan para budak. Dengan demikian, jelaslah bahwa andalusia sebelum
kedatangan islam, kehidupan masyarakatnya sangat memprihatinkan dan terpecah
belah.
Komandan pasukan Bani Umayyah yang berhasil menguasai sebagian
Semenanjung Iberia (Andalusia, Spanyol) adalah Tariq din Ziyad. Pada waktu itu,
Bani Umayyah berada di bawah pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik
(Al-Walid I). Tariq yang keturunan Barbar itu melakukan penyerangan ke Spanyol
pada tahun 711M atas perintah Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair. Saat itu,
di Andalusia, terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Gotia, yang akhirnya
dimenangkan Roderick. Setelah itu, muncul pemberontakan yang dilakukan kelompok
Witija dan Kelompok Julian, yang juga masih bagian Kerajaan Gotia. Raja Witija
tidak mampu menghadapi serangan Roderick sehingga tewas. Kemudian, putra witija
yaitu, Graaf Julian, meminta bantuan kepada Musa bin Nusair yang merupakan
gubernur Bani Umayyah di Afrika Utara
Islam mulai masuk ke Andalusia itu terjadi pada masa daulat
bani umayah, yakni di zaman khalifah Al Walid bin Abdul Malik (705 – 715 M).Kemajuan
yang dicapai pada masa Al Walid, telah memberi dukungan besar untuk melakukan
penjelajahan da’wah ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke wilayah andalusia.
Da’wah yang diprakarsai Musa bin Nusair yang pada saat itu menjabat gubernur
afrika utara, ternyata sangat tepat. Hal itu terbukti mendapat dukungan dari
penduduk andalusia sendiri akan kehadiran da’wah islam yang berupa armada yang
dipimpin Tariq bin ziyad yang datang dengan menyebrangi selat dan mendarat di
sebuah gunung. Karena itu, gunung itu dikenal dengan sebutan “Jabal Tariq”,
yang artinya Gunung Tariq, dalam bahasa Latin disebut “Gibraltar”. Dengan
dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki
Spanyol.
Salah satu keputusan
Tariq bin Ziyad yang sampai ini dipandang berani dan cemerlang adalah
memerintahkan kepada pasukannya untuk membakar seluruh kapal yang
ditumpanginya. Pasukannya terkejut karena belum paham maksud dari perintah itu.
Untuk menenangkan pasukannya, Tariq bin Ziyad berpidato, “Kita sekarang di
antara dua pilihan, menang atau mati. Di belakang kita terbentang lautan luas,
di depan kita lawan yang telah menghunus pedang. Tidak ada lagi jalan mundur. Siapa yang lapar silahkan
ambil makanan yang ada di tangan musuh, dan siapa yang memerlukan senjata,
silahkan ambil di tangan lawan, siapa yang ingin mati syahid di dalam membela
agama Allah tidak ada rasa takut dan khawati, dan siapa yang pengecut akan mati
konyol dan sia-sia”.
Setelah itu, Tariq bin Ziyad mengajak tentaranya berdo’a
memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Bagaikan gemuruh, serentak
para pejuang islam menyatakan siap dengan segala risiko dan membenarkan ucapan
Tariq bin Ziyad. Ternyata, Tariq benar. Tak berapa lama, mereka diserang
pasukan Roderick dengan 25.000 orang tentara lengkap, sedangkan kaum muslimin
hanya berjumlah 7.000 orang. Satu hal yang tidak disadari Raja Roderick adalah
Tariq bin Ziyad datang ke Andalusia itu atas undangan rakyat. Akhirnya, kerja
sama pasukan Tariq bin Ziyad dan masyarakat Andalusia dapat merontokan
kecongkakan Raja Romawi di Spanyol. Pertempuran ini disebut Perang Xeres.
Keberhasilan thariq bin ziyad ternyata tidak sepenuhnya
didukung oleh atasannya yaitu musa bin nusair sebagai gubernur afrika utara,
hal ini didasari atas kekhawatiran musa bin nushair dan alwalid sebagai
khalifah bani ummayyah di damaskus. Untuk itu musa bin nushair dengan
persetujuan alwalid memerintahkan thariq bin ziyad agar mundur dan kembali
mundur kembali ke afrika utara.
Akan tetepi perintah tersebut tidak ditaati oleh thariq bin
ziyad dengan alasan bahwa bika peperangan dihentikan akan terjadi serangan
balik dari pihak goth yang sempat menyusl kembali kembali kekuatannya karena
diberi kesempatan istirahaat sedang si pihak tentara islam akan melemah
mentalnya akibat akibat keberhasilan yang mereka capai diputuskan
ditengah-tengah. Oleh karena itu musa bin nushair membawa pasukannya yang besar
dan menyeberang ke andalusia untuk menyusul rombongan tentara thariq bin zaid
sampai ke kota toledo. Dan di kota itulah kedua pahlawan besar bersama
pasukannya bertemu dan dan selanjutnya mereka bergandeng saling bahu-membahu
dan bekerja sama dalaml menaklukan negeri- negeri yang masih tinggal.
Kedua pahlawan islam itu meneruskan penaklukan ke utara
yaitu, ke wilayah Aragon, Castilia, dan Katalonia serta kota Zaragoza dan
Barcelona. Dengan demikian sempurnalah penaklukan tanah semenanjung Iberia ke
tangan umat islam, kecuali daerah pegunungan Cantabri yang terletak di penjuru
barat laut, tempat pelarian (pengungsian) bangsawan-bangsawan dan pembesar Goth
Barat.
Tariq bin Ziyad pulalah yang memperkenalkan akhlak islam
pada bangsa Eropa. Pada saat perang berkecamuk, Tariq bin Ziyad menyampaikan
pesan kepada pimpinan masyarakat Andalusia untuk tidak merusak gereja dan
tempat-tempat ibadah orang Yahudi. Mereka diberi kebebasan melakukan upacara
keagamaan seperti biasanya. Selain itu, mereka juga tidak boleh membunuh wanita
dan anak-anak.
Tariq bin Ziyad tidak mendapatkan perlawanan yang berarti
ketika memasuki Kota Kordoba, Toledo, Granada, dan kota lainnyadi Spanyol.
Karena Islam yang damaidan berbudi luhur, penduduk setempat merasa tertarik.
Semua ini bertolak belakang dengan apa yang mereka alami dan rasakan
sehari-hari. Tariq bin Ziyad berjuang bahu-mambahu untuk mendapat dukungan dari
penduduk Andalusia.
Raja Gotia terakhir yang sempat menyaksikan kehancuran Gotia
adalah Roderick. Semenjak saat itu, berakhirlah penguasa yang dzalim di
Andalusia (Spanyol). Usaha ini dilakukan kurang lebih selama 6 tahun (711-717
M).
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah.
Masuknya Islam ke Andalusia itu berlangsung melalui proses yang sangat panjang.
Seridaknya ada dua proses yang mempengaruhi, yaitu proses kebudayaan dan proses
politik. Proses kebudayaan, yaitu daya tarik yang dimiliki peradaban Islam yang
menyebabkan masyarakat di luar Islam berkeinginan untuk mengembangkannya.
Orang-orang Eropa tertarik dengan Ukhuwah, semangat jihad, kepemimpinan, dan
perkembangan ilmu pengetahuan.
Dari proses politik, orang-orang Eropa dapat mengenal Islam melalui
hubungan antarpemimpin Negara atau para utusan masing-masing Negara. Pengaruh
Islam melalui proses politik ataupun kebudayaan ke Eropa untuk pertama kali
terjadi di Andalusia (Spanyol). Orang-orang Andalusia dengan mudah menerima
kedatangan Islam yang menjunjung tinggi asas perdamaian. Pada masa itu,
Andalusia diperintah raja yang kejam. Pemerintahan Gotia dii Andalusia kurang
disenangirakyatnya, termasuk umat Kristen (Romawi) yang berada di luar Andalusia.
Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal
yang menguntungkan.Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi
yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol
oleh orang-orang Islam,
kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan
menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol
terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan
dengan itu penguasa Gothic
bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu
aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut
agama Yahudi
yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol
dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara
brutal.
Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi
oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi
seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru
pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan
itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan
Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan
kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol
berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada
dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan
yang keji, koloni-koloni Yahudi
yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan
dalam negeri Spanyol
ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M.
Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol,
ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol
masih berada di bawah pemerintahan Romawi
(Byzantine),
berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan,
industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik.
Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh
dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa
digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit
dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama
disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa
pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang
dikalahkan Islam.
Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas
wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini
memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun
kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara
dan bergabung dengan kaum muslimin.
Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin
di Afrika Utara
dan mendukung usaha umat Islam
untuk menguasai Spanyol,
Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah
kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah.
Hal
menguntungkan tentara Islam
lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang
tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang Selain itu, orang Yahudi yang selama
ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan
kaum Muslimin.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang
terdapat dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam
penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang
kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap,
berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya
adalah ajaran Islam
yang ditunjukkan para tentara Islam,
yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan
persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin
itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
Dengan masuknya Islam ke
Andalusia, mulai saat itu Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Bahkan, penyebarannya hingga ke benua Eropa. Selama 7 abad panji-panji Islam
berkibar di Andalusia. Bangsa Andalusia menjadi Negara yang paling menjunjung
tinggi peradaban di belahan Eropa. Di sinilah dapat ditarik pelajaran yang
sangat penting bagi tumbuh berkembangnya Islam di Andalusia. Adapun pelajaran
yang bisa dipetik sebagai pelajaran tentang masuknya Islam di Andalusia, antara
lain sebagai berikut :
1.
Islam dengan mudah diterima di Andalusia
(Spanyol) karena penguasa Spanyol pada waktu itu sangat kejam, tidak adil, dan
tidak toleran terhadap penganut agama selain Kristen. Di pihak lain, Islam
memberikan kebebasankepada rakyat untuk menganut agamanya masing-masing dan
lebih mementingkan perdamaian serta menjunjung tinggi keadilan
2.
Dengan masuknya Islam, Andalusia menjadi Negara
Islam yang kuat, megah, dan berkeadilan. Masjid Agung Kordoba menjadi pusat
tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Selama tujuh abad umat islammencapai
kejayaan di berbagaii bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, social
kemasyarakatan, serta pembangunan fisik.
3. Andalusia pada masa kejayaannya menjadi pusat belajar
filsafat, kedokteran, ataupun ilmu alam oleh sarjana Eropa. Islam memberikan
kebebasan berpikir kepada setiap pemeluknya. Dalam bidang filsafat Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang
sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad
ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada
abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn
Abdurrahman (832-886 M). Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya
ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova
dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad
sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh
para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk
melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya. Bagian akhir abad ke-12
M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di
gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia
lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan
dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti
masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli
fiqh dengan karyanya Bidayah al- Mujtahid.
4.
Pada saat Islam berkembang dan Kordoba menjadi
pusat ilmu pengetahuan, bangsa Eropa sedang tenggelam dalam masa perbudakan dan
kemunduran. Pada abad ke-15 bangsa Eropa mulai menyadari kemunduran tersebut,
kemudian munculah yang disebut renaissance. Kebangkitan orang-orang
Eropa pada hakikatnya adalah kesadaran mereka untuk menggali sejarah. Islam
telah memberikan pelajaran bagi siapa saja untuk mengembangkan dan mengambil
pelajaran dariu sejarah masa lalu untuk diterapkan pada masa sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar